Nasi padang atau Nasi Padang
Oleh: Yoga Mestika Putra*

Nasi padang memang merupakan makanan yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Lucunya di Padang sendiri, Sumatra Barat, tidak dikenal istilah “nasi padang” yang ada hanyalah “nasi kapau”, “nasi ampera”, “nasi sek”, atau “nasi sala”. Secara lisan tidak ada masalah ketika menyebutkan nasi padang, akan tetapi ketika hendak menuangkan ke dalam tulisan muncul pertanyaan nasi padang itu nama diri atau nama jenis.
Menurut Junaiyah (2006) nama diri merupakan nama yang dipakai untuk menamai orang, tempat, atau sesuatu, termasuk konsep atau gagasan. Penulisan nama diri berpedoman pada Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Pedoman itu selalu menuliskan semua contoh yang berupa nama diri dengan huruf awal kapital. Yang tergolong nama diri adalah Tuhan, persona, yang berhubungan dengan kalender, benda khas geografi, dan benda bernyawa/takbernyawa.
Sementara itu, nama jenis adalah kata benda yang menunjuk sembarang anggota dalam kelas maujud bernyawa atau dalam kelas maujud takbernyawa (Junaiyah, 2006). Nama jenis pasti merupakan salah satu anggota dari kelasnya. Sriyanto (2015) berpendapat bahwa nama geografi yang menjadi bagian nama jenis ditulis dengan huruf kecil. Misalnya, jeruk bali yang merupakan nama salah satu jenis tumbuhan jeruk. Pada awalnya kata bali merupakan nama geografi sehingga ditulis dengan awalan kapital. Namun, setelah menjadi bagian dari nama jenis, kata-kata tersebut ditulis dengan huruf kecil. Hal tersebut berbeda dengan batik Lampung yang tidak bisa disejajarkan dengan jenis lain, tetapi dapat disejajarkan dengan nama geografi lain.
Pengetahuan terhadap nama diri dan nama jenis sangat penting karena hal tersebut berdampak pada penulisannya. Nasi padang sudah menjadi nama jenis sebagaimana jeruk bali. Kata padang pada frasa tersebut tidak lagi menggambarkan nama geografi. Nasi padang dapat disejajarkan dengan makanan jenis lain seperti nasi ayam penyet, nasi kucing, atau nasi kebuli. Sementara rendang Padang tidak bisa disejajarkan dengan rendang ayam, rendang telur, rendang paru, atau rendang bebek. Satu lagi misteri yang belum terpecahkan mengenai nasi padang adalah kenapa porsi dibungkus lebih banyak daripada porsi makan di tempat?
Rujukan:
- Junaiyah, H.M. 2006. “Penulisan Nama Diri dan Nama Jenis dalam Bahasa Indonesia”. Dalam Majalah Ekspresi Edisi 8 Tahun IV, Desember. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Bahasa.
- Sriyanto. 2015. Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Ejaan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
*Yoga Mestika Putra adalah dosen di Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jambi.
